30 sepetember 2001
Siang itu aku masih kebingungan mencari biaya untuk berobat Candra dan Surya. Candra panas tinggi batuk dan muntah dan Surya saat itu Jadwalnya kontrol ke dokter specialis Jantung.
Bengkel punya suami kebetulan kok yaa sepi...belum ada yang mdngambil barang servisan. Siang itu memberanikan diri bilang ke ibu mertua. Tapi saat itu jawaban ibu uangnya baru saja habis untuk membayar semua belanja (Ibu Mertuaku punya warung makan yang cukup di kenal orang). Biar tidak ada tanggungan lagi katanya.
Cemas melanda tapi harus bersabar. Alhamdulilah sorenya anak-anak sudah bisa berobat.
Habis magrib usai sholat mereka berdua minta d suapin untuk dasar minum obat. Papahnya bilang nanti kalau kalian sudah sembuh kita tinggal dirumah simbah aja yaaa nemeni mbah kalung da mbah Kus. Mbah Kus masakannya enak-enak lho.. kata papahnya. Anak-anak tidak memjawab. Tapi aku merasaka gertaran yang berbeda dari ucapan suamiku itu...
Tak sampai satu jam ...Pintu rumah diketuk. Dibalik pintu ternyata ada ponakan yang meminta suami segera ke rumah mbah mami karena mbah mami jatuh da ndak sadarkan diri. Berikut saya sadar kata-kata tadi siang adalah pesan terakhirnya.
Daan segalanya berubah ...Mbah Mami telah dipanggil Allah. Tanpa sakit bahkan siangnya warung Makan Bu Kus itu masih buka dan melayani pelanggannya seperti biasa.
Perjuangannya luar biasa ...
Wanita yang tangguh yang aku kenal sebelum anaknya jadi suamiku. Menurut cerita dari sana sini...hatinya sekuat baja walau sudah pernah tersakiti.
Perjuangannya karena ingin anaknya sukses. Kalimatnya yang sering aku dengar " Bejane sikil dadi sirah sirah jadi sikil" . ( walaupun harus jadiin kaki jadi kepala, kepala jadi kaki). Aktivitasnya dimulai jam 4 pagi dari menanak nasi pakai tungku kayu menyiapkan keperluan untuk warung sampai memasak. Dibantu dua orang pembantunya.
Tiap sore ...selesai warung ditutup tak lupa membagi makanan di piring dengan nasi dan lauk sesuai selera cucunya. Nasi dengan kuah rendang. Atau kadang telur semur yang berulang kali dipanasi yang penampilannya keras tapi rasanya jadi gurih yang paling disukai ponakan. Sampai kerupuk yang d bungkus plastik. Kemudian mbak yang membantu d warung disuruhnya mengantar itu untuk ponakan yang rumahnya di belakang . Kami yang tinggal serumah terkadang juga mendapatkan kiriman paling sering untuk mas candra dulu sapitan. Sate pentol yang terbuat dari daging dan d lumuri santan kanil lalu di bakar.
Kebiasaan laimnya adalah Tak pernah absen mengaji .Kegiatan rutin mingguan yang selalu xihadiri disela-sela kesibukaannya.
Kenang kenaganya kini untukkur adalah panci putih yang dulu biasa dijadikan tempat untuk sambel kacang untuk menyiram pecel. Semoga tenang disana buk...
Mbah mami yang dirindukan ....