Jumat , 14 Oktober 2011
Sekitar jam 7 ... baru sempet tranper ke mbak Dedew. .. tanda serius ikutan workshop menulis
Sabtu , 15 Oktober 2011
Bangun pagi-pagi berharap bisa dapet Bus Nusantara. tapi kudu ngojek dulu ngantar si mamas sekolah. Jadi terlambat 15 menit dari waktu yang di rencanakan. Keburu....., berasa sudah bersiap dan tak ada yang tertinggal , tapi... Ooo ternyata aku lupa bawa deker padahal baju ku legannya 3/4..
"wedewhhh... bisa nggak yaaa beli di jalan :(.
Perjalanan ke terminal kurang lebih 45 menit.. maklumlah Kedungwuni -Batang lumayan jauh jaraknya .Sampai di Terminal , benar saja Nusantara jam 8 sudah berangkat adanya jam 9 weeeh alamat telad iki...kalau teteup bertahan pake Nusantara. Akhirnya semenit kemudian sampailah di agen Coyo,pakai taktik iriit beli tiketnya cuma satu padahal berangkatnya bareng Surya, sempet kena protes Surya
"Kenapa beli tiketnya satu ,aku kan udah gede " .
"hehe iyaa sie... maaf kan mama yaa baru ingat kamu ternyata udah gede "
Lumayan berat juga kalo dua jam duduk di pangkuan..#lumayan bikin kucingan paha mama. Tapi untungnya sampai bus berangkat ndak ada penumpang tambahan jadiii selamatlah... Surya bisa duduk sendiri dengan leluasa walau hanya dengan satu tiket.... :D
Puas tiduur di Bus, sudaah berapa bulan yaaaa nggak traveling biasanya sampai enek bau bensin dan kampas rem. Sampai nggak terasa sudah masuk Krapyaak... wee lha kok tumben Coyo cepet... biasanya nie Bus terkenal leletnya. Menurut Dik Adin , adekku yang kuliah di FISIP UNDIP, kalau mau ke Tembalang turun di Kalibanteng kemudian naek Nugroho..bus ini akan membawa sampai gerbang piramit UNDIP lalu belok kanan ada pertigaan Bus belok kiri..., Naah Resto kaliwang itu kalau ndak salah jalan yang lurus posisi sebelah kiri jalan.
"Menunggu Nugroho terasa lama , Semarang tak beda dengan Pekalongan hari ini puanase poll"
yoo wiss laah jalan sedikit ke gerbang bandara , akhirnyaaa....di putuskan naek taxi saja...
Sambil tengak-tengok sepanjang jalan kali-kali bisa turun beli deker dulu. Namun yang terjadi sampai patung kuda Tembalang belum bisa menemukan toko atau minimarket yang jual dekeer... alamat nggak Pede neeh nanti..
Hasil tanya sana-sini akhirnya sampai dech di resto Kaliwang ..yang ternyata ada di sebelah kanan. Bener dech acara sudah di mulai, tapi sutraa laah di sini kan aku peserta, bukan jadi pembicara kayak biasanya ngisi pelatihan atau seminar. Belum kenal lagi sama ibu-ibu semua di sini..
Oke laah Pede aja duduk di sebelahnya mas penyampai materi yang kemudian ku ketahui namanya mas Wiwien. salim-saliman dan kenalan dulu sama ibu-ibu lain yang cantek-cantek dan kayaknya serius membahas beberapa cerpen... Menyimaak dulu seperti biasaaa , tipe ku kan Auditori, jadi merekam dulu apa yang terjadi ..halaah . Padune nggak setor cerpen hehe.
Sempet di daulat ngajari Jarimatika ... waduuh, taukah saudara, jerujiku nggak PD menari-nari karena nggak pakai deker, asliii kesan yang ku ciptakan kemaren kurang maksimal bangeet . Belum tak keluarin jurus-jurus ice breaking ku dan Hebohnya yel-yel yaaa.... okelah kapan-kapan semoga ada waktu untuk bersua kembali
Dan semoga langkahku ke Semarang untuk satu tujuan nambah ilmu dan persaudaraan baru di komunitas baru membuahkan manfaat dan khikmah dan tentunya keberkahan dari Nya. Amiiiin.....
Next mulai coba-coba corat-coret mengolah apa yang di lihat menjadi tulisan...
Daaan Inilaah Oleh-oleh belajar Nulis Cerpennya yaa... Copa Notulen Grup IIDN Semarang
NOTULEN WORKSHOP CERPEN IIDN SEMARANG
Pembicara : Wiwin Wintarto
Tempat : RM Ayam Kaliwang, Jl. Mulawarman 49A, Semarang
Hari/Tanggal : Sabtu, 15 Oktober 2011
Jam : 10.00 s.d. selesai
Secara keseluruhan acara berjalan lancar, menyenangkan dan pastinya sarat ilmu. Santai tapi serius. Walau molor dari undangan, tak apalah. Ini beberapa catetan yang jadi titik point acara workshop. Menurut Mas Win, cerpen yang memberi nilai jual adalah :
1. Tempat dan waktu kejadian ditulis seaktual mungkin. Misal di desa, kota atau negara lain. Perlu dituliskan juga hari, tanggal dan jam kejadian.
2. Menggunakan nama tokoh asli, jika ingin disamarkan maka diberi catatan.
3. Adanya punch sehingga memberikan unsur menyentak dan mengejutkan.
4. Menonjolkan konflik
5. Adanya “dialog” di awal sebuah cerita merupakan hak preogratif penulis. Jika di awal sebuah cerita merupakan “narasi” maka pembaca sudah diberi gambaran sekilas mengenai cerita tersebut. Jika di awal sebuah cerita merupakan “dialog” maka penjelasan isi cerita berada di tengah atau akhir.
6. Untuk cerpen anak-anak “satu kalimat” tidak boleh lebih dari “10 kata”. Sehingga apa yang kita tulis lebih mudah dicerna dan dipahami oleh anak.
Sedangkan untuk menulis novel harus melirik resep dibawah ini :
1. Saat menulis naskah tersebut, kita sudah memikirkan mau dikirim ke penerbit mana naskah kita. Misal novel islami ke Divapers, teenlit ke GPU, naskah kocak ke Gradien, dll.
2. Harus imajinatif. Kebanyakan untuk penulis pemula mengambil cerita dari kejadian yang ada di sekitar kita. Belum sepenuhnya mengembangkan imajinasi. Mengasah otak dengan membiasakan menulis walau hanya sebuah note. Banyak membaca berbagai macam buku akan memperluas khasanah perbendaharaan kata dan imajinasi kita. Mengambil kisah nyata biasanya kekurangannya pada konflik yang terjadi. Disinilah penulis pintar-pintar mengembangkan konflik dan kejutan-kejutan agar ceritanya lebih menarik, dan seru. Melenceng dari cerita asli juga boleh karena kita hanya menulis terinspirasi kisah nyata bukan menulis berita tentang itu yang harus akurat.
3. Untuk penulisan narasi dan dialog orang lain harus menjorok. Misalnya :
Vian meletakkan backpack-nya di meja, dan ia sudah menduga langsung bisa menebak reaksi anak-anak melihat penampilannya pagi ini.
“Wuah, si tomboi is back!” seru Sarif si ketua kelas XI IPA 1.
“Aduh, Vian, kenapa rambutmu jadi gini?” celetuk Banu sok sendu. “Aku lebih suka liat kamu berambut panjang. Lebih feminim-lebih cantik!”
Rita yang sejak tadi nongkrong di bangku sebelah Vian tak ketinggalan pula berkomentar. “Kok nggak ngajak-ngajak sih ke salonnya!?” teriaknya sengit. “Aku sebenarnya juga pengin ngerapiin rambut. Dasar jahat!”
(Ini tulisan Mas Win di buku terbarunya “The Unfunniest Comedy”)
4. Tidak usah memberi imbuhan setelah dialog. Misalnya :
“Assalamu’alaikum”, sapaku dengan suara khas ngantuk.
“Wa’alaikumsalam”, suara seorang wanita diseberang sana.
Aku baru sadar itu bukan suara mamaku tapi suara tante, adik mama. Langsung mataku melek lebar dan terjaga, pikiranku melayang kemana-mana. Kenapa hape mama bisa dibawa tante, pikirku.
”Sudah tidur nduk?” tanya tante dengan suara serak.
“Sudah tant, kebangun ada telpon dari mama, eh ternyata tante. Ada apa tant malem – malem telpon?” tanyaku penasaran.
5. Sinopsis diperlukan juga dalam pengajuan naskah novel ke penerbit. Tetapi ada kalanya penulis tidak memberikan sinopsis dan sedikit “memaksa” editor agar membaca cerita dari awal hingga akhir. Ini bertujuan agar jika ada kesalahan pasti langsung dicoret oleh editor.
Menurut sang penulis desain interior mas Ruli Amin, dalam penulisan cerpen maupun novel perlu adanya komunikasi. Beberapa poin penting komunikasi dalam sebuah cerpen atau novel :
1. Komunikasi bertujuan untuk memperjelas paradigma/persepsi untuk orang lain. Karena sebuah cerita jika ditulis hanya disimpan dan dibaca sendiri, maka itu hanya untuk konsumsi pribadi. Berbeda jika cerita dalam sebuah majalah atau novel, dia akan menjadi konsumsi umum. Untuk itu perlu komunikasi, akan dibawa kemanakah cerita itu. Apakah untuk kalangan anak-anak, remaja atau dewasa. Sehingga tidak terjadi salah konsumsi, anak-anak membaca cerita remaja atau dewasa.
2. Sebelum mengirim naskah ke majalah atau penerbit, perlu adanya review ulang tentang naskah tersebut. Sehingga masih ada kesempatan untuk mengoreksi jika ada kesalahan.
3. Untuk pembuatan tokoh cerita, persepsi antara penulis dan pembaca harus sama. Setiap orang pasti punya pandangan berbeda akan deskripsi tentang seseorang. Misal, Pak Bambang menurut mbak Bella itu berkulit putih, tinggi, hidung mancung, badan tegap. Sedangkan menurut mbak Adel, pak Bambang berambut keriting, kecil, berwajah tirus dan bersuara keras. Untuk menyamakan persepsi tentang pak Bambang, maka perlu adanya komunikasi dalam menulis.
kereeeenn..mbak vivin,.aku masih kangeeunn.bersua sama mbakyu..blom puassss....harus wajib hukumnya ketemuan lagi sama mbak seng manis tenan ini.mmuaahh..:)
BalasHapustx yaa... http://www.blogger.com/profile/07674107024988027581..sudah mampir di mari, insy... amiin2 moga bisa ketemuan lagii....muaach...muaach...
BalasHapus